Mangku Pastika dan sela malablab Mangku Suyasa

Mangku Pastika dan sela malablab Mangku Suyasa

Hujan lebat menyambut rombongan kandidat Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat pedak tangkil ke Pura Besakih pada petang Purnama Kedasa lalu. Mangku Pastika didampingi Ketua DPD PDI-Perjuangan Bali, Cok. Ratmadi serta jajaran pengurus DPD dan DPC PDI Perjuangan se-Bali.Di Besakih rombongan bertemu dengan Bupati Bangli, I Nengah Arnawa dan Ketua Umum Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi, Prof. Dr. I Wayan Wita.
Lebatnya hujan memaksaâ rombongan singgah di bale peristirahatan di sisi kiri dari gerbang Pura Penataran Agung. Di tempat itu rombongan Mangku Pastika diterima oleh Jro Mangku Suyasa. Obrolan pun layaknya sahabat karib. Menghilangkan dinginnya hembusan angin dan hujan lebat di luar bale-bale.
Di tengah obrolan, para pecalang Besakih memayungi ibu-ibu yang membawa kopi, teh, sela malablab dan kacang untuk dihidangkan keseluruh anggota rombongan.
Melihat kopi panas dan sela malablab dengan taburan parutan kelapa, Mangku Pastika spontan teringat kejadian beberapa tahun silam.
Ini dia sela dan kopi yang mengingatkan saya dengan keberanian Mangku Suyasa.Mangku Pastika menceritakan pengalamannya saat pembakaran kantor Polsek Rendang oleh massa bebotoh beberapa tahun silam.
Untuk menunjukkan kesetiaannya kepada anak buahnya yang sedang memburu para pelaku pembakaran, Mangku Pastika, ketika itu masih menjabat Kapolda Bali, langsung berangkat ke Rendang. Jenderal relijius itu memilih meninggalkan rumah dinasnya yang nyaman di Denpasar untuk begadang semalaman di kantor Polsek yang rusak terbakar. Seluruh jajaran perwira utama Polda Bali pun mengikuti keteladanan sang komandan.
Menjelang tengah malam, sebagian besar aparat kepolisian mulai didera rasa letih dan lapar.
Di sekitar Rendang warung-warung tutup karena situasi mencekam. Di Klungkung hanya dapat beberapa bungkus nasi. Terpaksa mencari hingga ke Denpasar,cerita Mangku Pastika.
Di tengah suasana yang mencekam itulah Jro Mangku Suyasa datang. Ia menyetir sendiri mobilnya melewati malam yang dingin.
Saya salut dengan keberanian Mangku Suyasa. Karena waktu itu tidak ada masyarakat Rendang yang berani datang ke Polsek. Tetapi belau berani,puji Mangku Pastika sambil melirik Mangku Suyasa.Suyasa menambahkan bahwa dalam perjalanan dirinya sempat dicegat oleh sekelompok pemuda yang memblokir jalan.
Tetapi setelah tahu kalau dirinya yang lewat, maka diijinkan oleh para pemuda. Minggir, beri jro Mangku lewat kata pemuda-pemuda itu, ditirukan Mangku Suyasa.
Bagian belakang mobil Suyasa ternyata terisi termos-termos kopi panas, sela malablab serta kacang rebus. Logistik ala pedesaan itu kemudian dibagikannya kepada Mangku Pastika dan anak buahnya.Kopi, sela dan kacang yang dibawa Mangku Suyasa, menurut Mangku Pastika, benar-benar nikmat.Sela-nya terasa nikmat sekali. Tak kalah nikmat dengan sela yang sekarang ini,kenang Mangku Pastika sembari mengunyah sepotong sela.
Selain itu, sela itu juga membangkitkan semangat Mangku Pastika dan anak buahnya.
Saat kita sedang lelah lalu tiba-tiba ada warga masyarakat yang memberi dukungan, rasanya tenaga ini langsung pulih kembali, ujar Mangku Pastika.
Jro Mangku Suyasa tersenyum mendengar ucapan Mangku Pastika. Sela malablab yang dibawanya malam itu telah menjadi simbol ikatan akrab antara seorang pemimpin dengan rakyatnya.

http://www.pastikayoga.org

 

Advertisements

%d bloggers like this: